Oleh Abdullah Sartono
Ahmad Nausrau bukan sekadar nama dalam daftar pejabat publik. Ia adalah ulama muda, pemimpin religius, dan tokoh muda Papua Barat Daya yang gaya kepemimpinannya menggabungkan antara keimanan, kebijaksanaan, dan kesederhanaan merakyat. Dengan latar belakang keagamaan yang kuat dan pengalaman organisasi yang dalam, Nausrau mampu menyampaikan pesan moral dan kebijakan publik dengan gaya yang kadang menginspirasi, kadang provokatif dalam arti positif, serta selalu berakar pada nilai sosial. Sumber: Hidayatullah.com
Lahir dan menikmati masa kecil di Kampung Kayu Putih, Kaimana 43 tahun berlalu. Ahmad kecil tumbuh dalam suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Ia mengenal disiplin, kesederhanaan, dan religiusitas bukan dari buku tebal, tetapi dari keteladanan keluarga dan para guru ngaji di kampung. Keluarga yang sederhana dan lingkungan yang saling membantu membentuk kesadaran awal bahwa hidup bukan hanya soal pencapaian pribadi, tetapi juga tanggung jawab pada masyarakat.
Di usia remaja, ia mulai tertarik pada dunia ilmu keislaman. Keputusannya ke pesantren jauh dari rumah menjadi titik balik: ia belajar merantau, belajar berjuang dengan serba terbatas, belajar mengukur dirinya lewat disiplin ilmu dan akhlak. Merantau, Belajar, dan Melihat Dunia Lebih Luas
Perjalanan pendidikan yang membawanya ke berbagai kota; Mondok di Pasuruan, Sekolah di Madiun, kuliah di Ma’had Albirr Unismuh Makassar, ke Al Aqidah Jakarta, bahkan lintas batas samudera, ke Universitas Al Azhar Kairo di Mesir— membuka pandangan baru; bahwa Islam bukan hanya soal ritual, tetapi juga peradaban, ilmu, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
Di Mesir, Ahmad berkawan dengan mahasiswa dari berbagai bangsa — Afrika, Asia, Timur Tengah — belajar bersama tanpa sekat. Dari situ ia memahami: “Perbedaan bukan ancaman, tetapi sumber kebijaksanaan.” Pengalaman merantau itu pula yang membuatnya pulang ke Kaimana dengan perspektif berbeda: ia membawa ilmu, tetapi tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun. Saat kembali ke kampung, tawaran mengabdi datang: mengajar, berdakwah, merintis yayasan dengan kolaborasi berbagai mitra dakwah, hingga memimpin Majelis Ulama Indonesia Tingkat Kabupaten Kaimana juga Propinsi Papua Barat dan kini sedang menjabat sebagai Ketua Umum MUI PBD.
Pidato Bahasa Arab yang Viral Sebagai Pernyataan Visi dalam Bahasa Internasional.
Salah satu momen paling menarik dalam kiprah publiknya adalah ketika ia berpidato dalam bahasa Arab tanpa teks pada acara Halal Bihalal di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kabupaten Sorong — pidato yang kemudian menjadi viral di media sosial karena menunjukkan kedalaman ilmu sekaligus kesan akrab sebagai pemimpin yang dekat dengan umat. Dalam pidatonya ia menyampaikan rasa syukur dan motivasi kepada para santri, sekaligus menegaskan bahwa Papua Barat Daya adalah kawasan yang hidup dalam harmoni dan menghormati keberagaman agama. Sumber Hidayatullah.com
Kutipan dari pidatonya mencerminkan komitmen tersebut: “Papua Barat Daya adalah tempat di mana semua agama diterima dengan baik, di mana masyarakat hidup dalam harmoni dan menghargai nilai-nilai toleransi dari setiap agama.” — Ahmad Nausrau (dalam bahasa Arab & Indonesia). Pidato ini tidak sekadar formalitas — ia menjadi simbol bahwa seorang pemimpin daerah yang religius pun dapat berbicara dalam konteks global dan membangun jembatan antara tradisi lokal, agama, dan aspirasi modern. Sumber Hidayatullah.com
Yang menarik: ia tetap menjaga gaya hidup yang sederhana. Tidak jarang ia mencari kawan lama masa sekolah dan kuliah. Mengajak makan dan reunian kawan seringkali ia lakukan. Sebagai sahabat dan satu almamater saat studi di Ma’had Albirr Unismuh Makassar, kami merasa terhormat, pernah diajak iftar (Buka Puasa) dengan beberapa tokoh saat bersama di Jakarta, puasa tahun lalu saat setelah ia dilantik jadi Wagub PBD. Kerap berbagi kabar dan informasi pendidikan dan lainnya. Alhamdulillah beberapa keluarga dapat beasiswa studi ke Pondok Modern Ar-Rahmah Tangerang atas rekomendasi sahabat baik ini.
Seringkali mencari guru masa sekolah dan orang-orang yang pernah berbuat baik dan membantunya saat sulit. Saat setelah pelantikan di Ibukota, ia segera bernostalgia ke rumah lama, saat ia Sekolah SMA dan menjadi anak angkat Pak Maidi. Gurunya. Yang kini menjadi walikota Madiun Periode kedua. Ustaz Ahmad selalu menunjukkan kesederhanaan bahkan ia kerap kali mencium tangan para guru dan orang tua yang ia temui.
Reunian bersama mahasiswa dan para dosennya waktu ia studi di Ma’had AlbirrAlbirr Universitas Muhammadiyah Makassar saat setelah dilantik, saat setelan transit dari tugas luar, kota Palu Sulawesi Tengah. Beliau berbagi kisah saat menjadi Tullab (Mahasiswa) Albirr dengan banyak kenangan yang mengharu biru, tentu banyak kenangan ia lalui sejak masuk kuliah tahun 2002-2004. Akhirnya melanjutkan studi ke Al Azhar Kairo 2 Tahun dan lanjut ke Al Aqidah Jakarta dan mendapatkan gelar S. Pd. I. Saat berkisah dan bernostalgia, ia fasih menggunakan bahasa Arab.
Ustadz Ahmad, kerap kali datang ke kampung dan Pulau-pulau kecil dan terluar, duduk bersama warga tanpa jarak, mendengar keluhan tentang pendidikan, kesehatan, hingga harga kebutuhan pokok. Di sinilah sosok “merakyat” itu terlihat jelas: Ia lebih banyak mendengar daripada bicara. Ia tidak suka disanjung, dan kerap mengingatkan:
“Pemimpin itu bukan duduk paling depan, tetapi berdiri paling siap ketika rakyat membutuhkan.”
Ketika Takdir mengantarnya ke Meja Kekuasaan
Masuknya ia ke gelanggang politik tidak direncanakan sebagai ambisi pribadi.
Banyak tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda mendorongnya: “Papua Barat Daya butuh pemimpin yang memahami agama, tapi juga memahami manusia.” Ketika akhirnya terpilih sebagai Wakil Gubernur Papua Barat Daya, ia tahu bahwa jabatan bukan sekadar prestise.
Khutbah Idul Fitri — Spiritualitas dan Pesan Sosial
Tak hanya dalam forum khusus, Nausrau juga menjadi khatib pada Shalat Idul Fitri di Sorong, di mana ia menegaskan bahwa momentum Hari Raya adalah kesempatan bagi masyarakat untuk memperkuat tekad menjalankan kebaikan sepanjang tahun, bukan hanya selama bulan Ramadan. Ia mengatakan:
“Ramadhan adalah kado istimewa dari Allah untuk membuat hidup ini jauh lebih baik dari sebelumnya… setelah Ramadan berlalu, nilai kepedulian terhadap sesama harus semakin nyata.” — Ahmad Nausrau, khutbah Idul Fitri.
Pesan ini mencerminkan keyakinannya bahwa spiritualitas harus berdampak nyata terhadap kehidupan sosial — yakni melalui tindakan, bukan sekadar tradisi. Sumber Antara News
Di berbagai kesempatan ia sering mengatakan:
“Jabatan datang dan pergi. Yang abadi adalah amal dan jejak kebaikan.”
Menginspirasi Generasi Muda Papua
Bagi anak-anak muda Papua Barat dan Papua Barat Daya, sosok Ahmad Nausrau memberi pesan penting:
Bahwa anak pesisir, anak kampung, anak Papua-
dengan kesungguhan belajar dan keimanan —
bisa melangkah jauh dan memimpin.
Ia sering mendorong generasi muda:
jangan minder, jangan berhenti sekolah,
jangan takut bermimpi, dan jadilah pemimpin yang jujur. Ia percaya kebangkitan Papua tidak hanya dibangun lewat jalan dan gedung, tetapi melalui: pendidikan, karakter,
dan rasa percaya diri generasi mudanya.
Respons Kepada Masyarakat dan Kebijakan Publik
Sebagai Wakil Gubernur, Nausrau juga dikenal komunikatif dan sering menyampaikan arah kebijakan secara langsung kepada masyarakat serta aparatur. Misalnya, dalam sebuah apel pagi bersama ASN, ia menekankan pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan sebagai abdi negara, bahkan dalam hal kecil seperti ketepatan waktu dan kepatuhan terhadap peraturan pajak kendaraan. Dalam pertemuan dengan Menteri Haji dan Umrah RI, ia menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan layanan haji dan umrah bagi masyarakat Papua, termasuk memperkuat koordinasi, memperluas kuota, serta memperhatikan biaya dan akses transportasi jamaah. Sumber; papuabaratdayaprov.go.id
Aktivitasnya juga mencakup dukungan terhadap pendidikan vokasi dan SDM lokal — seperti seremonial pembukaan pelatihan sertifikasi untuk anak asli Papua yang dipersiapkan menjadi tenaga profesional di sektor pariwisata. Ia berujar: “Kami ingin anak-anak Papua tumbuh sebagai pelaku usaha yang mandiri dan mampu memimpin sektor pariwisata di daerahnya sendiri.” — Ahmad Nausrau, disampaikan pada acara pelatihan sertifikasi SDM pariwisata. Sumber: realistis.id
Komitmen terhadap Masyarakat Adat dan Legislasi Partisipatif
Dalam sambutannya saat membuka Konsultasi Publik RUU Masyarakat Adat Region Papua, Nausrau menegaskan bahwa kebijakan yang menyangkut masyarakat adat harus dibangun melalui partisipasi langsung mereka. Ia menekankan bahwa RUU tersebut bukan sekadar produk hukum, tetapi sarana transformasi sosial yang memastikan keadilan dan perlindungan hak-hak adat. Sumber: papuabaratdayaprov.go.id
Pertemuan dan Kolaborasi untuk Pendidikan Pesantren
Dalam pertemuan dengan pimpinan Universitas Darunnajah, Nausrau menyatakan dukungan penuh terhadap kerja sama antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan pesantren. Menurutnya, pendidikan berbasis karakter dan ilmu pengetahuan diperlukan agar generasi muda Papua dapat tumbuh unggul dan berdaya saing nasional hingga global. Sumber; Universitas Darunnajah
Refleksi Naratif: Kepemimpinan yang Menyatukan Nilai Agama dan Pembangunan
Gaya kepemimpinan Ahmad Nausrau adalah perpaduan antara saintifik dan moral, antara religiusitas yang mendalam dan realitas sosial yang kompleks. Ia tidak hanya berbicara tentang nilai-nilai, tetapi menjadikan nilai-nilai itu berdampak langsung pada kebijakan publik, mulai dari pelayanan haji hingga pembinaan SDM lokal, hingga perumusan kebijakan yang menghormati budaya adat.
Pidato dalam bahasa Arab, khutbah Idul Fitri yang mengajak masyarakat untuk hidup lebih baik sepanjang tahun, dan pernyataannya tentang hak masyarakat adat bukan hanya menjadi momen publik yang menarik — tetapi cermin dari seorang pemimpin yang tidak takut mengekspresikan keyakinannya, sekaligus berupaya menjembatani keberagaman sosial di tanah Papua Barat Daya.
Dengan demikian, sosoknya bukan hanya menjadi wakil gubernur pertama provinsi baru ini, tetapi juga ikon perjuangan sosial-agama yang relevan dalam konteks Indonesia modern — sebuah Indonesia yang menghargai pluralitas namun tetap berakar kuat pada nilai moral dan religius. Sumber; Hidayatullah.com
Antara Harapan dan Kebangkitan.
Kisah hidup Ahmad Nausrau adalah kisah perjalanan panjang: dari rumah sederhana di Kayu Putih, Kaimana, ke pesantren dan pusat pendidikan dunia, hingga ke ruang kebijakan pemerintahan. Ia menunjukkan bahwa:
religiusitas tidak bertentangan dengan modernitasmodernitas. Kekuasaan harus menyatu dengan kebijaksanaan.
Demikian kebangkitan rakyat dari timur Indonesia khususnya Papua Barat Daya, Insya Allah lahir dari pemimpin yang amanah, merakyat, sederhana, dermawan, berwibawa dan kolaboratif antara semua elemen dan entitas anak bangsa. Semoga bersama Gubernur Elisa Kambu, dapat membawa PBD menjadi daerah yang bisa maju dan bersaing. Doa tulus menyertai derap langkah pengabdian. Terima kasih atas kebaikan dan kolaborasi dakwah hingga kini. Barakallahu fikum.












