LANSKAPSULAWESI.COM-Luwu Timur-Insiden kebocoran pipa minyak High Sulphur Fuel Oil (HSFO) milik PT Vale Indonesia di Luwu Timur menegaskan paradoks besar dalam industri pertambangan: bagaimana mungkin perusahaan yang telah mengantongi ISO 14001, meraih PROPER Hijau, dan bahkan baru-baru ini dianugerahi PROPER Emas, tetap saja meninggalkan jejak pencemaran di lahan pertanian masyarakat?
Pertanyaan ini mengusik logika kritis: apakah penghargaan lingkungan di negeri ini benar-benar mencerminkan akuntabilitas, atau hanya simbol greenwashing untuk menjaga citra korporasi?
Secara akademis, kasus ini menunjukkan adanya kesenjangan serius antara standar formal dan realitas lapangan. ISO maupun PROPER pada dasarnya menekankan kepatuhan administratif dan indikator teknis. ISO 14001 sebagai standar internasional manajemen lingkungan semestinya memuat identifikasi risiko, pencegahan pencemaran, kesiapsiagaan darurat, kepatuhan regulasi, hingga perbaikan berkelanjutan. Demikian pula PROPER KLHK yang juga menilai aspek pencegahan pencemaran.
Namun, fakta kebocoran pipa HSFO yang merusak lahan pertanian masyarakat justru menimbulkan pertanyaan besar terhadap efektivitas kedua instrumen tersebut. Keduanya masih lemah dalam aspek verifikasi independen. Akibatnya, penghargaan lingkungan berisiko direduksi sekadar legitimasi reputasi, bukan jaminan keberlanjutan.
Kasus di Towuti juga menyentuh dimensi etis global. Nikel yang selama ini dielu-elukan sebagai komoditas strategis transisi energi dunia, bisa terjebak pada stigma “Black Nickel”—sebagaimana berlian Afrika pernah dilabeli “Blood Diamond” karena meninggalkan jejak penderitaan sosial. Jika penderitaan lokal dan kerusakan ekologis diabaikan, maka kredibilitas Indonesia sebagai pemasok nikel dengan label Green Mining dan Sustainable Mining bisa tercoreng di mata internasional.
Karena itu, saya memandang perlu adanya tata kelola baru yang lebih progresif dengan pemantauan independen yang melibatkan lembaga akademik. Tanpa itu, penghargaan seperti PROPER atau sertifikasi ISO tidak lebih dari seremoni politik-ekonomi jauh dari esensi keberlanjutan sejati