Tiga Tokoh Massenrempulu Perkenalkan Maspul Care dalam Dialog Publik di Makassar

Lanskapsulawesi.com, Makassar – Sebuah inisiatif kolaboratif bertajuk Maspul Care diperkenalkan kepada publik melalui kegiatan dialog terbuka yang diselenggarakan di Aula Warkop Teaster, Lantai 3, Jalan Statistik Pintu Nol Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Jumat (2/1/2025).
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun ruang diskursus publik mengenai arah pembangunan Kabupaten Enrekang yang berkelanjutan, inklusif, dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.
Maspul Care diinisiasi oleh tiga tokoh Massenrempulu, yaitu Husain Anwar, Hendriono Minda, dan Abdul Karim, yang bertindak sebagai pemateri utama dalam dialog publik bertema “Bersatu dalam Perbedaan, Kuat dalam Tujuan”.
Ketiganya merupakan mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari cabang yang berbeda pada periode 2005–2006, serta menjadi Pengurus Pusat Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (PP-HPMM) di tahun yang sama.
Keberadaan para inisiator tersebut merepresentasikan keterwakilan tiga kelompok etnis utama di Kabupaten Enrekang; Enrekang, Maiwa, dan Duri yang secara historis dan kultural dikenal sebagai suku Massenrempulu.
Kegiatan dialog berlangsung secara sistematis dan konstruktif dengan dimoderatori oleh Abd. Kadir S.
Dalam penyampaiannya, Husain Anwar menekankan bahwa paradigma pembangunan daerah perlu diarahkan pada prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yang tidak hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan dimensi keadilan sosial, pelestarian lingkungan, serta penguatan kapasitas masyarakat lokal.
Menurutnya, pencapaian tujuan pembangunan tersebut mensyaratkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, masyarakat sipil, sektor swasta, dan diaspora Massenrempulu sebagai aktor pembangunan.
Abdul Karim menjelaskan bahwa Maspul Care dirancang sebagai ruang kolaborasi strategis yang berfungsi menjembatani pertukaran gagasan dan sinergi lintas sektor dalam rangka meningkatkan daya saing Kabupaten Enrekang secara inklusif.

Melalui pendekatan ini, potensi lokal yang meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, dan kearifan budaya diharapkan dapat dikelola secara bertanggung jawab dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.
Ia menambahkan bahwa dialog publik tersebut merupakan langkah awal untuk mendorong kesadaran kolektif dan partisipasi aktif generasi Massenrempulu dalam berbagai sektor strategis pembangunan daerah melalui pendekatan multisektoral dan partisipatif.
Sebagai identitas gerakan, Maspul Care mengusung tagline “Smart Care, Better Life” yang merefleksikan upaya adaptasi terhadap perkembangan era digital tanpa mengabaikan dimensi sosial dan lingkungan.
Sementara itu, Hendriono Minda menyoroti meningkatnya persoalan lingkungan hidup di Kabupaten Enrekang yang berkaitan dengan model pembangunan berbasis aktivitas ekstraktif.
Ia menegaskan bahwa praktik pembangunan yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan berpotensi menimbulkan degradasi ekologis jangka panjang serta mengancam keberlanjutan ruang hidup masyarakat.
Dampak ekologis tersebut, menurutnya, tidak bersifat lokal semata, melainkan berpotensi memengaruhi wilayah sekitarnya seperti Kabupaten Pinrang, Sidrap, dan Wajo.
Lebih lanjut, Hendriono menekankan pentingnya peran pendidikan sebagai instrumen strategis dalam menentukan masa depan Massenrempulu. Pendidikan dinilai tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus diarahkan pada pembentukan kesadaran ekologis, etika sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.
Dalam konteks ini, Maspul Care diharapkan berfungsi sebagai ruang edukasi dan advokasi yang mampu melahirkan generasi kritis, berdaya saing, serta memiliki komitmen terhadap pembangunan daerah yang adil dan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dan aktivis dalam membangun ruang dialektika intelektual yang bersifat konstruktif, yakni mendukung kebijakan pemerintah daerah yang produktif sekaligus melakukan kritik berbasis solusi terhadap kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat dan lingkungan.(*)