LANSKAPSULAWESI.COM – Mamasa – Kecamatan Nosu, yang berada di dataran tinggi Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, dikenal dengan udara sejuk pegunungan yang bisa mencapai 7 derajat Celsius. Selain kaya akan hasil bumi seperti aneka buah segar dan tanaman hortikultura, Nosu juga menyimpan warisan budaya leluhur yang masih dijaga hingga kini. Salah satunya adalah tradisi Mangngaro, rangkaian upacara kematian atau rambu solo’ yang digelar setiap bulan Agustus.
Bagi masyarakat Nosu, Agustus disebut sebagai bulan Liang, yakni masa khusus setelah panen padi dan sebelum penanaman berikutnya. Kurniawan, kader Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Nosu sekaligus aktivis GMKI Makassar, menjelaskan bahwa bulan Liang sarat nilai sejarah dan sakral bagi masyarakat. “Bulan Liang bukan hanya momen ritual, tetapi juga periode khusus untuk berziarah ke liang lahat atau goa,” ujarnya.
Tradisi Mangngaro diawali dengan pengeluaran jasad leluhur dari liang lahat pada sore hari, lalu diarak ke tempat yang telah dipersiapkan. Jasad tersebut disemayamkan dan didampingi berbagai prosesi adat selama sehari penuh. Keesokan harinya, setelah seluruh ritual selesai, jasad dikembalikan ke liang semula. Pelaksanaan tradisi ini diatur ketat oleh adat, mulai dari jumlah kerbau yang disembelih hingga busana tradisional yang digunakan, menegaskan bahwa Mangngaro bukan sekadar ritual, melainkan warisan leluhur yang penuh makna kesakralan dan identitas.
Lebih jauh, Kurniawan menegaskan bahwa meskipun Mangngaro lahir dari sistem kepercayaan lokal (aluk to matua), masyarakat Nosu tetap menjalaninya tanpa bertentangan dengan keyakinan agama yang dianut saat ini. “Masyarakat mengadaptasi tradisi ini dengan ajaran agama, tapi nilai kesakralannya tetap dijaga. Inilah wujud harmoni antara iman dan budaya,” jelasnya.
Selain bernilai spiritual, Mangngaro juga menjadi ajang kebersamaan. Tradisi ini mempertemukan keluarga yang datang dari berbagai daerah, mempererat hubungan kekeluargaan, bahkan menjadi momen “perjumpaan” simbolis antara generasi yang hidup dengan leluhur yang tak pernah mereka jumpai semasa hidupnya.
Kurniawan menambahkan bahwa tradisi sakral ini telah tercatat di Pusat Data Nasional Kekayaan Intelektual Komunal (PDN KIK) sebagai bukti pentingnya Mangngaro bagi masyarakat Nosu, baik sebagai identitas maupun warisan budaya yang bernilai tinggi. “Di penghujung bulan ini akan ada sejumlah keluarga yang melaksanakan Mangngaro. Mari datang ke Nosu dan saksikan langsung prosesi tradisi ini,” pungkasnya.