Oleh: Dr. Rendra Anggoro (Akademisi Unismuh Makassar)
Hari lahir Indonesia selalu menjadi momen reflektif untuk menakar sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan. Bangsa ini lahir dengan visi luhur: membangun masyarakat adil, makmur, dan bermartabat. Namun, delapan dekade lebih setelah proklamasi, kita harus jujur mengakui bahwa Indonesia kini berada di sebuah persimpangan sejarah, antara peluang besar menuju kejayaan dan risiko stagnasi akibat kepemimpinan yang belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat.
Jika menengok realitas hari ini, kita melihat dua wajah Indonesia. Di satu sisi, ada optimisme dari pertumbuhan ekonomi, perkembangan infrastruktur, serta geliat teknologi digital yang membuka ruang baru bagi inovasi. Namun di sisi lain, kita masih menghadapi tantangan serius: kesenjangan sosial yang melebar, praktik politik transaksional yang merusak kualitas demokrasi, serta gaya kepemimpinan yang kerap terjebak pada logika kekuasaan, bukan logika pelayanan.
Kepemimpinan hari ini perlu dipahami sebagai kunci yang menentukan ke arah mana bangsa ini bergerak. Jika hanya dikelola dengan paradigma kekuasaan jangka pendek, maka Indonesia berisiko kehilangan momentum emas untuk melakukan lompatan besar. Tetapi jika dipandu oleh kepemimpinan visioner, etis, dan kolaboratif, maka bangsa ini dapat keluar dari jebakan politik praktis menuju transformasi yang lebih berkelanjutan.
Hemat saya, ada tiga strategi yang harus menjadi pijakan. Pertama, kepemimpinan kolaboratif yang mampu menyatukan energi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil. Kedua, kepemimpinan strategis dan etis yang berani meletakkan kepentingan jangka panjang di atas kepentingan elektoral. Ketiga, investasi pada manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan penguasaan teknologi, sebab kualitas sumber daya manusia adalah fondasi sejati kemajuan bangsa.
Harapan kita sederhana namun fundamental: lahirnya generasi pemimpin baru yang tidak hanya mengelola hari ini, tetapi juga menyiapkan fondasi kokoh bagi masa depan. Realitanya, jalan menuju kepemimpinan ideal masih penuh tantangan. Namun, hari lahir Indonesia harus selalu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak pernah lahir dari sikap menyerah, melainkan dari keberanian memilih arah di persimpangan sejarah.
Bangsa ini membutuhkan kepemimpinan yang bukan sekadar “mengatur kekuasaan,” melainkan menggerakkan peradaban. Di persimpangan inilah, Indonesia ditantang untuk menentukan: tetap berjalan di jalur lama yang penuh kompromi, atau melangkah berani menuju harapan baru yang menjanjikan keadilan, kesejahteraan, dan martabat sejati.
Pada akhirnya, hari lahir Indonesia bukan sekadar momentum perayaan, tetapi juga uji kesadaran kolektif, apakah kita cukup berani menuntut dan melahirkan kepemimpinan yang benar-benar transformatif? Kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan antara akal strategis, moralitas, dan keberanian mengambil keputusan besar. Tanpa kepemimpinan yang demikian, Indonesia akan terus terjebak dalam siklus masalah lama. Namun dengan kepemimpinan yang berintegritas dan visioner, persimpangan sejarah ini justru bisa menjadi titik awal kebangkitan baru bangsa.(*)