Opini  

Menata Shaf,Menata Karakter

 

Oleh : Fatmawati Hilal (Sekretaris PB DDI/Jamaah Haji Kloter UPG 5)

Makkah Al-Mukarramah-Suasana mushallah hotel di Mekkah dalam beberapa hari terakhir tampak semakin padat, terutama pada waktu Subuh. Jamaah perempuan memenuhi setiap sudut mushallah, bahkan sebagian harus duduk berdesakan demi mendapatkan tempat untuk shalat berjamaah.

Himbauan para pembimbing ibadah dan petugas kesehatan agar jamaah menjaga kondisi fisik menjelang puncak ibadah haji menjadi salah satu sebab meningkatnya kepadatan mushallah hotel.

Banyak jamaah memilih beribadah di hotel daripada berjalan jauh ke Masjidil Haram agar tenaga tetap terjaga.Kondisi sederhana ini terjadi di hotel yang saya tempati, yang dihuni gabungan beberapa kloter UPG. Penghuni hotel “sikkampong maneng” atau “singkampong ngaseng”, satu kampung semua.

Suasana kekeluargaan terasa sangat kental. Logat daerah saling bersahutan, sapaan khas kampung halaman terdengar akrab, dan kehangatan itu menghadirkan rasa dekat di tengah jauhnya jarak dari tanah air.

Namun, di tengah kedekatan itu, muncul pula berbagai dinamika keseharian jamaah. Ketika masuk mushallah untuk shalat berjamaah sampai iqamah dikumandangkan, sebagian jamaah sigap mengisi shaf-shaf kosong dan merapatkan barisan. Namun, sebagian lain tampak enggan bergeser dari posisi yang dianggap nyaman. Ada yang tetap bertahan di ujung shaf atau di dekat pintu, meski bagian tengah masih kosong. Ada pula yang membiarkan celah di antara jamaah tanpa merasa perlu merapatkannya. Ada jamaah yang memilih bersandar di dinding mushallah dan tidak bergeming sedikit pun, meski shaf di depannya masih kosong. Posisi nyaman seakan lebih penting dibanding menyempurnakan barisan shalat berjamaah. Pemandangan seperti ini kadang berulang dari satu waktu shalat ke waktu lainnya.

Menariknya, ada juga jamaah yang begitu aktif mengatur posisi shaf jamaah lain, meminta orang lain maju atau bergeser, sementara dirinya sendiri tetap bertahan di tempat dan tidak mengisi ruang kosong di depannya. Ada yang tampak mudah menegur jamaah lain yang dianggap tidak tertib, tetapi lupa memberi teladan dengan bergerak lebih dahulu.

Ada pula yang menegur dengan nada cukup keras. Mungkin maksudnya baik, ingin meluruskan dan merapikan shaf, tetapi cara penyampaiannya tidak selalu diterima dengan baik oleh jamaah lain. Di tengah kelelahan fisik, kepadatan suasana, dan perbedaan karakter jamaah, teguran yang terlalu keras justru kadang memunculkan rasa tidak nyaman, bahkan salah paham kecil di antara sesama jamaah.

Berbeda halnya ketika takbiratul ihram telah dikumandangkan. Jika seseorang bergeser pada saat itu, justru dapat membuat shaf menjadi kosong, sementara jamaah di belakangnya pun tidak mungkin lagi berpindah karena sudah memulai shalat. Dalam kondisi seperti ini, bertahan pada posisi yang ada meski masih terdapat celah di shaf menjadi pilihan yang lebih baik daripada menimbulkan kegaduhan dan mengganggu kekhusyukan jamaah lain.

Kondisi lain yang tak kalah sering terlihat adalah jamaah yang asyik berbincang dengan suara cukup keras ketika kajian Subuh sedang berlangsung. Ada pula yang larut dalam video call bersama keluarga di kampung halaman. Dengan logat khas daerah yang hangat dan penuh kerinduan, mereka tertawa lepas dan bercakap-cakap cukup keras tanpa menyadari bahwa suara yang ditimbulkan mengganggu jamaah lain yang sedang berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau menyimak kajian.

Belum lagi suara alarm dan dering telepon genggam yang kadang berbunyi berkali-kali tanpa segera dimatikan. Sebagian jamaah mungkin belum terlalu memahami pengaturan teknologi di telepon pintar mereka.

Pengalaman kecil yang saya alami di suatu pagi. Suara alarm dari sebuah telepon genggam berbunyi terus-menerus cukup lama. Ketika menemukan sumbernya, saya tidak langsung mendekat. Saya menimbang lama, didekati atau tidak, jangan sampai tersinggung, marah, atau bagaimana? Lama saya merenung, karena setiap 2 menit alarm itu kembali berbunyi. Saya mencoba memperhatikan raut wajah ibu tersebut dari kejauhan. Akhirnya, saya mendekatinya, sambil berkata pelan, “Tabe bu, sini hpta saya offkan alarmnya.” dia lalu menyerahkan telepon genggamnya, dan alarm itu pun berhasil dimatikan. Sang ibu tampak tersenyum lega, mungkin karena memang tidak memahami cara menonaktifkannya.

Kondisi seperti ini juga terjadi di Masjidil Haram yang dipenuhi jamaah dari berbagai negara. Di tempat inilah kesabaran benar-benar diuji. Dalam suasana padat, tubuh bisa saja tersikut, disenggol, bahkan tanpa sengaja terinjak oleh jamaah lain yang kesulitan mengontrol langkahnya di tengah lautan manusia. Semua itu hampir menjadi bagian dari keseharian ibadah di Tanah Suci.

Pengalaman kecil saya alami ketika shalat Maghrib di Masjidil Haram. Saat itu, saya duduk berdampingan dengan seorang jamaah perempuan asal Bangladesh. Saya mengetahui asal negaranya dari tulisan pada identitas tas yang ia letakkan di depannya. Tak lama kemudian, beberapa jamaah lain yang entah berasal dari negara mana datang dan langsung mengambil posisi duduk sangat dekat di hadapannya. Perempuan itu tampak keberatan. Dengan bahasa asalnya, ia melontarkan protes kepada jamaah tersebut. Saya memang tidak memahami apa yang diucapkannya, tetapi bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya cukup menjelaskan suasana hatinya.

Sesaat kemudian, ia menoleh kepada saya dan berbicara dalam bahasa Bangladesh. Tentu saya tidak memahami seluruh ucapannya. Namun sambil berbicara, ia menunjuk pahanya dengan raut wajah yang menahan rasa sakit. Dari gestur dan mimiknya, saya menangkap maksud yang ingin ia sampaikan. Rupanya, ia pernah terinjak jamaah lain saat suasana shaf sedang padat dan orang-orang berebut mencari tempat shalat. Rasa sakit itu, menurut yang saya pahami dari ceritanya, masih ia rasakan hingga sekarang.

Pengalaman singkat itu menyadarkan saya bahwa di Tanah Suci, bahasa boleh berbeda, negara boleh berlainan, tetapi rasa lelah, rasa sakit, dan harapan untuk dihargai sebagai sesama manusia ternyata sama. Di tengah jutaan manusia yang datang dengan karakter dan kebiasaan berbeda, kesabaran dan empati menjadi ibadah yang tak kalah penting dibanding ritual-ritual lainnya.

Peristiwa-peristiwa sederhana seperti ini sejatinya mengajarkan bahwa ibadah haji bukan hanya tentang kuatnya ritual individual, tetapi juga tentang kemampuan menjaga adab sosial di tengah kebersamaan. Kesabaran, kelembutan dalam menegur, tenggang rasa, kesiapan memahami kondisi orang lain, hingga kemampuan menahan diri agar tidak mengganggu sesama menjadi bagian penting dari kemabruran ibadah.

Bahkan, latihan kesabaran dalam menghadapi karakter manusia yang berbeda-beda boleh jadi menjadi salah satu ujian terbesar dalam proses pelaksanaan ibadah haji. Sebab di Tanah Suci, seseorang tidak hanya diuji oleh cuaca, kelelahan fisik, atau panjangnya rangkaian ibadah, tetapi juga oleh kemampuannya mengelola emosi dan menjaga akhlak di tengah keberagaman manusia.

Dalam ajaran Islam, merapatkan shaf bukan sekadar urusan teknis dalam shalat berjamaah. Ia adalah bagian dari adab dan perintah agama. Kerapian barisan menjadi simbol persatuan, kesetaraan, dan kepedulian antar sesama jamaah. Tidak ada sekat status sosial, jabatan, gelar ataupun latar belakang. Semua berdiri sejajar menghadap Allah SWT.

Fenomena di mushallah hotel ini sesungguhnya menghadirkan pelajaran penting bahwa karakter jamaah haji di Tanah Suci sering kali menjadi cerminan karakter keseharian di tanah air. Kebiasaan disiplin, kepedulian terhadap orang lain, serta kesiapan mengalah demi kemaslahatan bersama akan tampak secara alami dalam situasi ibadah kolektif seperti ini.

Sebaliknya, sikap enggan bergeser, hanya ingin menempati posisi tertentu, sibuk mengatur orang lain tanpa memberi contoh diri sendiri, atau kurang peduli terhadap kenyamanan bersama menunjukkan bahwa ibadah ritual belum sepenuhnya menghadirkan kesadaran sosial. Padahal, haji bukan hanya perjalanan spiritual individual, tetapi juga latihan besar tentang hidup bersama dalam keteraturan dan kepedulian.

Di tengah jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci, setiap jamaah sesungguhnya sedang belajar menjadi pribadi yang lebih tertib dan lebih peka terhadap sesama. Bahkan dari hal sederhana seperti mengisi shaf yang kosong, menjaga ketenangan mushallah, menegur dengan bahasa santun dan tidak menggurui, mematikan dering telepon genggam, hingga merapatkan barisan. Sebab terkadang, kualitas ibadah tidak hanya terlihat dari lamanya doa dipanjatkan, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu memberi ruang dan kenyamanan bagi orang lain. (Irfan)