Opini  

Post-Human Capitalism: Dunia Tak Lagi Butuh Banyak Pekerja

Oleh: Dr. Rendra Anggoro (Akademisi Unismuh Makassar)

Dunia sedang berubah secara radikal. Bukan lagi soal tren sesaat, tetapi pergeseran besar dalam struktur ekonomi global. Hari ini, kita menghadapi kenyataan yang makin tak terbantahkan: dunia tidak lagi membutuhkan banyak manusia untuk bekerja. Otomatisasi menggantikan buruh, kecerdasan buatan mengambil alih analis data, dan algoritma menyederhanakan fungsi manajerial. Kita sedang memasuki fase baru dalam sejarah ekonomi manusia Post-Human Capitalism.

Ini adalah kapitalisme era pasca-manusia: sebuah sistem yang mengandalkan mesin, memaksimalkan efisiensi, dan meminimalkan peran manusia. Dalam paradigma ini, manusia bukan lagi pusat produksi, melainkan menjadi “biaya” yang harus ditekan. Bahkan di sektor yang dahulu dianggap sangat manusiawi seperti pendidikan, kesehatan, hingga hukum, teknologi kini mulai mengambil alih.

Lihatlah Tiongkok, misalnya. Negara ini menjadi contoh ekstrem dari revolusi kerja berbasis teknologi. Di kota-kota besar seperti Beijing dan Shenzhen, taksi tanpa pengemudi sudah beroperasi secara massal menggunakan sistem AI otonom. Di pelabuhan Qingdao, peti kemas diangkut, dipindahkan, dan disusun oleh sistem robotik tanpa sentuhan manusia. Bahkan restoran cepat saji di Shanghai kini menggunakan robot untuk memasak, mengantar makanan, dan mencuci peralatan. Apa yang dulu membutuhkan ratusan tenaga kerja kini cukup dijalankan oleh server, sensor, dan software.

Fenomena ini bukan prediksi masa depan. Ini adalah realitas hari ini. Perusahaan teknologi mampu menghasilkan keuntungan triliunan dengan hanya ratusan pegawai. Pusat perbelanjaan digantikan oleh e-commerce otomatis. Layanan pelanggan dijalankan oleh chatbot yang bekerja 24 jam tanpa istirahat dan tanpa gaji. Dunia kerja bergerak menuju otomatisasi penuh, dan sistem tak lagi membutuhkan banyak orang untuk tetap berjalan.

Kita menyaksikan apa yang dulunya menjadi keunggulan manusia kecepatan, presisi, bahkan kecerdasan kini diambil alih oleh mesin. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: apa peran manusia dalam sistem yang tidak lagi membutuhkannya?

Konsekuensi dari Post-Human Capitalism sangat luas. Ketimpangan ekonomi meningkat tajam. Pendidikan tinggi tidak lagi menjamin relevansi. Gelar akademik menumpuk, tetapi pekerjaan menyusut. Kita melahirkan generasi cerdas, tetapi kehilangan ruang bagi mereka untuk berkontribusi.

Krisis ini bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga eksistensial. Jika pekerjaan tak lagi jadi identitas, bagaimana kita mendefinisikan diri? Siapa kita jika kita tak lagi “dibutuhkan” oleh sistem?

Inilah saatnya kita merumuskan ulang nilai manusia. Kita perlu berpindah dari manusia sebagai tenaga kerja, menjadi manusia sebagai pencipta makna, penjaga nilai, dan pengambil keputusan etis. Mesin bisa mengerjakan tugas, tetapi tidak bisa merasakan, memahami, atau memelihara nilai kemanusiaan.

Sebagai seorang dosen Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Muhammadiyah Makassar, saya, Dr. Rendra Anggoro, melihat ini bukan sekadar fenomena teknologi melainkan krisis kebijakan. Pemerintah dan lembaga sosial harus bergerak cepat. Kita memerlukan kebijakan baru: sistem jaminan pendapatan dasar, pendidikan yang menekankan kreativitas dan empati, serta regulasi teknologi yang adil dan etis. Tanpa itu, Post-Human Capitalism akan membawa kita pada masa depan yang eksklusif dimiliki oleh mesin dan segelintir elite digital.

Pada akhirnya, Post-Human Capitalism bukan akhir dari manusia, tapi titik balik yang menentukan. Apakah kita hanya menjadi penonton dalam dunia yang kita bangun sendiri, atau justru menemukan peran baru yang lebih bermakna? Dunia memang tak lagi butuh banyak pekerja, tapi dunia akan selalu membutuhkan manusia yang mampu memberi arah.